Kamis, 30 Desember 2010

sebuah jepertan waktu SMA









Irfan Bachdim: Suporter Indonesia Terbaik di Dunia


    Timnas Indonesia boleh gagal memboyong trofi Piala AFF 2010, namun kebanggan terhadap Indonesia tak akan berkurang. Hal tersebut termasuk diungkapkan striker timnas Irfan Bachdim yang bisa bermain buat Indonesia untuk pertama kalinya. Dukungan suporter yang sangat gegap gempita salah satu yang menjadi kebanggannya. "Saya sangat bangga kepada para suporter Indonesia! Ya, Anda semua hebat! Sungguh suporter terbaik di dunia! Saya bangga kepada Anda semua dan menjadi orang Indonesia," kata Irfan Bachdim dalam Bahas Inggris di akun Twitternya, @irfanbachdim20, Minggu (29/12/2010) tak lama setelah pertandingan berakhir.
Seperti pemain lainnya, Irfan pun tak larut dalam kesedihan walaupun saat peluit panjang berakhir sempat menundukkan kepala. Dalam akun Twitternya, ia tetap merasa Timnas Indonesia bermain sangat bagus selama Piala AFF berlangsung. Bahkan, ia mengibur diri kalau Indonesia tetap tim yang bermain terbaik.
"Kami mengalahkan mereka (Malaysia) dua kali!! Hal itu ternyata tak cukup untuk memenangkan piala ini. Namun, kami adalah yang terbaik dalam turnamen secara keseluruhan! Dan suporter kami adalah yang terbaik," lanjut Irfan.
Indonesia memang hanya kalah sekali selama Piala AFF 2010 berlangsung dan dua kali mengalahkan Malaysia. Pada babak penyisihan Indonesia bahkan membantai 5-1. Begitu pula dalam final leg kedua tadi malam dengan skor 2-1. Namun, sayang kemenangan tersebut gagal mengantarkan Indonesia sebagai juara Piala AFF 2010 karena kalah skor agregat 2-4 dari Malaysia. Pada leg pertama di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Indonesia kalah 0-3.

Bambang Pamungkas: Tetap Semangat!


Striker timnas Indonesia, Bambang Pamungkas, tak larut dalam kesedihan. Meski Indonesia gagal meraih trofi Piala AFF 2010, ia tetap terlihat tegar meski ada ungkapan kekecewaan. Hal tersebut tampak dari komentar Bambang di akun Twitter miliknya @bepe20, Minggu (29/12/2010) malam, tak lama setelah pertandingan berakhir.
Ternyata 6 kemenangan dan hanya sekali kalah, belum mampu membawa pulang trophy itu saudara-saudara. tetap semangat...!!!
-- Bambang Pamungkas
"Ternyata 6 kemenangan dan hanya sekali kalah, belum mampu membawa pulang trophy itu saudara-saudara. Tetap semangat...!!!" tulis pemain bernomor 20 yang akrab dipanggil Bepe itu. Indonesia gagal meraih gelar juara Piala AFF 2010 setelah kalah skor agregat dengan Malaysia 2-4.
Untuk menapak ke final Piala AFF 2010, Indonesia memang tak pernah kalah, baik di babak penyisihan maupun babak semifinal. Bahkan di babak penyisihan, Indonesia membantai Malaysia dengan skor 5-1. Namun, Indonesia harus mengakui kekuatan Malaysia dan kalah 0-3 pada laga final pertama Piala AFF 2010 di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, dan hanya menang 2-1.
Sebelumnya, Bambang sempat berharap mukjizat pada pertandingan laga final kedua. Hal itu becermin pada klub-klub raksasa dunia yang bangkit kembali dari kekalahan dan menang besar. Namun, keberuntungan kali ini ternyata belum datang kepada Indonesia. Meski demikian, sekali lagi tetap semangat!

Garudaku Sayang, Garudaku Malang

Sebagian masyarakat Indonesia menilai permainan dan pencapaian kesebelasan nasional di Piala AFF 2010 membanggakan. Namun, ada juga yang mengaku kecewa.
Indonesia menutup Piala AFF 2010 sebagai runner-up, setelah kalah agregat 2-4 (0-3, 2-1) dari Malaysia di babak final, 26 dan 29 Desember 2010.
Pada pertandingan leg kedua, Indonesia berpeluang unggul lebih dulu ketika mendapat hadiah penalti, menyusul handsball Mohd Sabre bin Mat Abu pada menit ke-18. Firman Utina yang dipercaya mengeksekusi bola mengirimnya secara akurat ke sudut kiri bawah gawang. Sayang, tendangan terlalu lemah sehingga bola mudah ditangkap oleh Khairul Fahmi.
Masalah itu belum selesai ketika Malaysia malah mampu unggul 1-0 berkat gol Mohd Safee pada menit ke-54. Dalam sebuah serangan balik, Safee berhasil menguasai sebuah umpan terobosan dan menggiringnya melewati duo Maman dan Hamka sebelum melepaskan tendangan keras dari tengah kotak penalti, yang mendesak jaring dalam gawang Markus Horison.
Indonesia akhirnya menutup pertandingan dengan kemenangan 2-1 berkat gol Muhammad Nasuha (menit ke-73) dan Muhammad Ridwan (85).
Menurut Agung, seorang suporter, meski gagal juara, Indonesia pantas dibanggakan karena menunjukkan semangat juang untuk bangkit setelah terpukul kegagalan penalti Firman dan gol Safee.
"Saya kecewa banget, Mbak, awalnya saat melakukan tendangan penalti itu gagal. Saya kecewa sama Firman. Tadi itu banyak kesempatan, tapi finishing-nya enggak bagus," kata Agung.
Kecewa yang mendalam juga dirasakan Tamam, Toni, dan dua rekannya yang datang ke Jakarta dari hari Jumat (24/12/2010). Berbeda dari Agung, Tamam hanya kecewa pada hasil akhir, bukan pada kinerja tim nasional.
"Saya sama teman-teman datang jauh-jauh dari Gresik, kepenginnya Indonesia juara. Saya kecewanya waktu pertandingan di Malaysia kemarin. Itu membuat down. Saya bangga kok dengan permainan timnas sepanjang AFF," ucap Tamam.

Siapa Bilang Indonesia Kalah?





 
 Meski  kecewa karena tim nasional Indonesia gagal menjadi juara Piala AFF 2010, nyatanya masih banyak penonton dan pendukung setia timnas yang tetap optimistis.
"Siapa bilang Indonesia kalah? Sekarang enggak kalah, tapi memang belum juara," kata Coki (25) asal Tanjung Priok, Jakarta Utara, yang ditemui Kompas.com di Stadion Gelora Bung Karno, Rabu (28/12/2010). Dalam laga final kedua AFF 2010, Indonesia memang menang 2-1, tetapi kalah skor agregat dengan Malaysia yang menang 3-0 saat laga pertama.
Menurut Coki, permainan laga final kedua antara Indonesia dan Malaysia yang berlangsung tadi sudah cukup baik. Menurutnya, selama laga piala AFF, baru sekali Indonesia kalah, yakni saat ditekuk Malaysia 0-3 di Stadion Bukit Jalil, Malaysia. Timnas belum pernah kalah dengan Malaysia di Stadion Bung Karno.
"Timnas itu sudah bermain baik. Buktinya, baru sekali kalah," ujarnya bangga.
Meski kalah dan tak berpredikat juara, Coki berharap timnas untuk terus maju. "Ya ke depan semoga makin maju. Yang maju selain timnas juga PSSI-nya, semoga pengurusnya diganti," kata penyuka pemain timnas "El Loco" ini.
"Buat pemain, supaya mentalnya dan kemauannya makin kuat. Kalau down, maka akan merusak konsentrasi dan permainan," imbuh Coki.

Jangan Malu untuk Belajar

Indonesia tidak perlu malu belajar atas sukses Malaysia menjuarai Piala AFF 2010. Meski menang 2-1 pada final kedua di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (29/12/2010), Indonesia gagal menjadi juara. Sukses Malaysia tidak lepas dari keseriusan mereka pada pembinaan usia muda.
Disaksikan sekitar 95.000 penonton, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Indonesia tertinggal 0-1 menit ke-54 oleh striker Safee Sali. Bek Muhammad Nasuha menyamakan 1-1, menit ke-72, dan Mohammad Ridwan memenangkan Indonesia 2-1, dua menit menjelang laga bubar. Kapten Firman Utina gagal mengeksekusi penalti pada menit ke-19.
Sebelum berangkat menonton pertandingan, Presiden sempat memberikan keterangan pers. Ia mengharapkan tim nasional Indonesia bermain sebaik-baiknya tanpa beban dalam pertandingan final kedua ini. ”Tidak perlu ada beban apa pun, kami semua tetap bangga kepada tim nasional kita, meskipun kemarin di Kuala Lumpur belum berhasil, tetapi tetaplah bermain dengan baik,” ujarnya.
Meski gagal juara, suporter Indonesia yang menguasai stadion dengan atribut merah tidak kecewa kepada pemain. Mereka tetap mengelu-elukan Firman Utina dan kawan-kawan, terutama setelah mendengar Firman dinobatkan sebagai Pemain Terbaik.
Kekecewaan atas kegagalan Indonesia meraih Piala AFF 2010 terpancar jelas dari wajah-wajah para pemain, jajaran manajer, dan pengurus PSSI.
Raut wajah mengungkap sejuta rasa meskipun kebisuan mengunci para pemain saat berjalan menyusuri lorong penghubung antara lapangan dan ruang ganti. Pemain berjalan lesu dengan wajah murung menuju ruang ganti.
Firman, yang biasanya ramah, wajahnya terlihat tegang. Ia hanya menunjuk dengan telunjuk tangan kanannya ke arah press room.
Bambang Pamungkas yang bermain bagus di babak kedua juga dengan singkat mengatakan, ”Nanti saja ya.” Pemain lainnya tidak ada yang menjawab pertanyaan jurnalis dan berjalan langsung ke ruang ganti.
Manajer Timnas Andi Darussalam Tabussala, yang biasanya ceria dan sering melontarkan guyonan kepada wartawan, berjalan lesu. Wajahnya terlihat gundah. Senyum tipisnya membalas sapaan wartawan, tetapi tak mampu menutupi kekecewaan.
Sekitar 15 menit kemudian, drama lain terjadi di pintu keluar ruang ganti pemain. Ketua Umum PSSI Nurdin Halid diteriaki para suporter yang menunggu pemain untuk minta tanda tangan. Anggota rombongan Nurdin terpancing emosinya dan membalas teriakan para suporter itu. Ketegangan sesaat itu baru mencair setelah petugas keamanan meminta rombongan Nurdin berjalan keluar melalui lorong samping.
”Ketua umum sudah berusaha maksimal, segala daya dan upaya sudah dilakukan,” ujar Nurdin yang menolak mundur. ”Apa urusannya dengan ketua umum. Nurdin Halid tidak akan pernah mengundurkan diri. Catat itu besar-besar.”
Dalam jumpa pers sebelumnya, Presiden menyatakan telah mencermati banyak saran dan kritik disampaikan masyarakat soal PSSI. Ia mengharapkan PSSI juga mendengarkan saran dan kritik masyarakat itu. ”PSSI saya harapkan juga mendengarkan saran, kritik, rekomendasi dari rakyat Indonesia yang sangat mencintai tim nasionalnya,” ujar Presiden.
Riedl evaluasi pemain
Dalam jumpa pers seusai laga, Pelatih Indonesia Alfred Riedl ditanya soal masa depan tim Indonesia, tetapi ia tidak secara tegas menjawabnya. Ia menyatakan bakal melakukan evaluasi terhadap skuadnya.
Riedl menambahkan, timnya bermain sangat bagus, tetapi kurang beruntung. ”Kami ucapkan selamat kepada Malaysia, tetapi kali ini tim terbaik tidak menjadi juara,” kata Riedl yang juga mengucapkan terima kasih kepada dukungan suporter yang luar biasa.
Menurut Riedl, kegagalan Indonesia merebut juara sudah dipastikan pada laga pertama di Kuala Lumpur. ”Kami kalah di Kuala Lumpur, dalam 15 menit yang kacau,” ujarnya.
”Itu adalah permainan terbaik kami sepanjang turnamen. Kami memiliki banyak peluang, tetapi kurang beruntung. Pada babak kedua, tim memperlihatkan karakternya untuk bangkit, saya berterima kasih pada pemain,” katanya.
Soal penalti yang gagal, Riedl tidak mau menyalahkan Firman Utina. Firman mengatakan, kegagalannya menendang penalti bukan karena tekanan. ”Itulah sepak bola, malam ini saya gagal. Saya memang ditugaskan oleh pelatih untuk mengambil penalti, kalau bukan saya siapa lagi,” kata Firman.
Bambang Pamungkas menambahkan, pertandingan final kedua sangat luar biasa dan Indonesia hanya kurang beruntung. ”Kita tidak kalah, kita menang, tetapi tidak juara,” ujar Bambang.

Warga Ambon: Timnas dan Riedl Patut Dihargai

Sebagian warga di Kota Ambon memuji penampilan dan perjuangan pemain tim nasional Indonesia setelah mengalahkan Malaysia 2-1 pada pertandingan kedua final Piala AFF di Gelora Bung Karno, Jakarta, Rabu (30/12/2010) malam.
"Seluruh pemain telah berjuang maksimal dengan kemampuan yang dimiliki untuk penampilkan permainan terbaiknya saat membela nama bangsa dan negara," kata salah seorang warga Ambon, Ary Sahetapy, yang ditemui seusai nonton bareng pertandingan Indonesia-Malaysia di Hotel Mutiara, Ambon, Rabu malam.
Dia mengakui, perjuangan dan usaha pemain tim Merah-Putih perlu diberikan apresiasi, karena mampu membalas kekalahan pada pertandingan leg pertama di Kuala Lumpur, Malaysia 26 Desember lalu.
Kendati kemenangan yang diraih tidak mampu mengantarkan Indonesia menjadi juara Piala AFF, menurut warga lainnya, Izaac, usaha dan kerja keras Bambang Pamungkas dkk perlu mendapatkan penghargaan dan dan dukungan seluruh masyarakat di Tanah Air.
"Timnas sudah menampilkan semua kemampuan terbaik yang dimiliki. Begitu pun pelatih Alfred Riedl juga telah melakukan yang terbaik untuk mengangkat pamor bangsa dan negara ini, sehingga patut dihargai," katanya.
Sebagian warga mengaku bangga Indonesia menang atas Malaysia, karena mampu membalas kekalahan 3-0 yang dialami pada leg pertama beberapa hari lalu.
"Firman Utina dan kawan-kawan sudah menunjukkan kualitasnya sebagai pemain berkualitas di Tanah Air. Buktinya, mereka mampu mendominasi pertandingan sejak babak pertama dan kedua dan semangat menyerangnya tidak kendur," kata Ketua Umum Pengprov Persatuan Olahraga Layar Seluruh Indoensia (Porlasi) Maluku, Hellen de Lima.
Kendati demikian, sejumlah warga mengaku, para pemain terlalu terburu-buru dan tidak sabaran saat mendapatkan peluang untuk mencetak gol.
"Jika mereka sabar dan tenang pasti sudah banyak gol yang tercipta," ujar sejumlah warga yang juga mengaku terkesan dengan penampilan prima kiper Malaysia Khairul Fahmi, yang mampu mengatasi sejumlah serangan pasukan Garuda.
Puluhan warga Kota Ambon malah merayakan kemenangan tim Garuda itu dengan konvoi kendaraan bermotor di beberapa ruas jalan di Ibu Kota Provinsi Maluku itu.
"Walaupun tidak menjuarai Piala AFF untuk keempat kalinya, pasukan Garuda telah menunjukkan keperkasaaan dan tetap menjadi juara," ujar beberapa peserta konvoi.
Dalam pertandingan yang berakhir Rabu malam, striker timnas Malaysia, Mohd Safee bin Mohd Sali menjadi pencetak gol terbanyak gelaran Piala AFF 2010 dengan raihan lima gol.
Dari lima gol yang dihasilkan oleh pemain dengan nomor punggung 10 itu, tiga di antaranya disarangkan ke gawang timnas Indonesia. Sedangkan dua gol lainnya disarangkan ke gawang Vietnam.
Pada pertandingan final kedua Piala AFF 2010 di Gelora Bung Karno, Jakarta, Rabu, Mohd Safee mampu mencetak satu gol ke gawang Markus Haris Maulana di menit 53.
Dua gol lagi yang diciptakan oleh pemain yang saat ini memperkuat Selangor FC ke gawang Indonesia terjadi pada final pertama Piala AFF 2010 di Stadion Nasional Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (26/12) dengan skor akhir 3-0.
Sedangkan kapten timnas Indonesia, Firman Utina, dinobatkan menjadi pemain terbaik Piala AFF 2010 meski timnas Merah Putih gagal menjadi juara untuk keempat kalinya.
Pemain dengan posisi gelandang dan menjadi pengatur serangan timnas Indonesia itu dinilai memiliki kemampuan lebih dibandingkan dengan seluruh pemain yang turun pada turnamen dua tahunan di tingkat ASEAN ini.

Saatnya Kembali ke Kenyataan

Sukacita selama hampir satu bulan itu berakhir sudah. Pesta sepak bola Piala AFF yang semula membuat bangsa Indonesia membubung ke langit ketujuh berakhir antiklimaks. Tim Garuda Indonesia yang begitu perkasa sejak babak penyisihan sampai semifinal tak sanggup membuat sejarah. Apa boleh buat, Malaysia-lah yang mengukir tinta emas, untuk pertama kalinya menjadi yang terbaik di festival sepak bola bangsa-bangsa Asia Tenggara ini.
Meski pahit, rasanya kita tak perlu larut dalam kesedihan. Sebaliknya, kegagalan untuk keempat kalinya di partai puncak Piala AFF ini harus menjadi bahan pembelajaran bagi seluruh insan sepak bola, utamanya para pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), yang paling bertanggung jawab terhadap prestasi tim nasional Indonesia. Bukan hanya itu, kegetiran di Stadion Utama Gelora Bung Karno juga harus menjadi pelajaran bagi oknum-oknum politisi yang semula ingin mendompleng euforia yang diledakkan pasukan Merah-Putih asuhan Alfred Riedl.
Sebenarnya, di luar dua hal di atas, terlalu banyak hal harus dijadikan bahan renungan oleh persepakbolaan nasional. Di lain pihak, euforia yang begitu hebat seharusnya dijadikan momentum kebangkitan prestasi sepak bola nasional, yang sudah begitu lama mendambakan gelar juara di tingkat internasional. Belajar dari pengalaman Piala Asia 2007, saat pasukan Garuda Indonesia gagal tetapi tetap mendapat acungan jempol, pada akhirnya menang atau kalah bukan hal paling penting. Pada ujungnya, juara tidak lagi sebuah tujuan akhir. Jauh lebih penting, para pemain dan tim pelatih sudah berbuat yang terbaik. Kegagalan ini hanya sebuah keberhasilan yang tertunda.
Di luar stadion, sulit untuk tidak terharu menyaksikan para pendukung Merah-Putih tetap menari-nari, meneriakkan yel-yel ”Indonesia... Indonesia!” Hal itu bukan karena Firman Utina dan kawan-kawan berhasil membalas kekalahan di Bukit Jalil, tapi lebih karena pasukan Merah-Putih telah tampil gagah berani, mengeluarkan semua kemampuannya, dan terlebih mereka menunjukkan pantas membela nama Indonesia dengan memakai kostum ”sakral” berlambang Garuda.
Bagi para pengurus PSSI, inilah sebenarnya momen untuk kembali ke kenyataan, kembali ke Bumi, setelah selama dua pekan seakan-akan lupa akan segala tugas pokok pembinaan sepak bola. Bagaimanapun, kompetisi yang berkualitas adalah kunci dari sukses tim nasional. Kompetisi yang bergulir saja secara teratur belumlah cukup untuk membawa Indonesia ke tingkat elite percaturan sepak bola Asia Tenggara, apalagi Asia, apalagi dunia. Kompetisi yang bergulir haruslah mempunyai mutu yang baik, dan tiap musim menunjukkan peningkatan kualitas.
Banyak hal yang menopang kualitas kompetisi, tetapi yang paling utama adalah pembinaan usia dini. PSSI tak perlu malu untuk mengakui bahwa selama ini abai terhadap youth development. Ratusan miliar rupiah tiap tahun berputar dalam persepakbolaan nasional, tetapi nyaris tak ada yang menetes ke pembinaan usia dini. PSSI terlalu asyik masyuk mengurusi kompetisi paling top, Liga Super Indonesia, yang memang seksi, bergelimang uang, berlimpah sponsor, bermewah dengan liputan media. Sementara kompetisi usia dini bukan cuma anak tiri, tapi ibarat anak terbuang yang menggelandang di kolong jembatan.
PSSI lebih suka jalan pintas, mencari pemain dengan jalan ”berburu” ke daerah-daerah dan mencomotnya begitu saja tanpa tahu betul rekam jejak pemain muda. Tanpa ada kompetisi, pemain muda yang diambil tidak terasah secara teknis, apalagi mental. Mereka kemudian dikumpulkan dalam proyek-proyek jangka pendek tanpa konsep yang benar-benar matang. Proyek Uruguay, misalnya, hanya mengulang kegagalan lama yang tidak membuahkan hasil, seperti Primavera dan Barreti. PSSI tidak pernah belajar dari pengalaman-pengalaman pahit tersebut.
Tanpa konsep pembinaan usia yang benar-benar diwujudkan dalam kompetisi berjenjang, pemain-pemain yang kemudian tampil di tingkat senior bukanlah atlet yang benar-benar matang. Ketika mereka tampil di liga senior, kemampuan mereka barangkali hanya 20 persen atau 30 persen dari kapasitas sebenarnya. Walhasil, tim nasional, terutama yang senior, tidak pernah memberikan prestasi yang membanggakan di tingkat internasional.
Ada baiknya, jajaran pengurus PSSI merenung sejenak. Mulailah bekerja dengan hati untuk menggerakkan roda kompetisi usia dini. Mulailah mencetak pelatih-pelatih berkualitas tinggi untuk menangani youth development. Sadarlah bahwa tak ada jalan pintas dalam sepak bola. Semua hasil terbaik harus dicapai dengan kerja keras, keringat dan pengorbanan.
Dalam pergelaran Piala AFF ini, PSSI sebenarnya sempat ”kembali ke jalan yang benar”, dengan membiarkan Alfred Riedl memilih sejumlah pemain muda untuk menyegarkan tim nasional. Pelatih asal Austria yang kenyang pengalaman menangani tim Asia Tenggara ini juga diberi keleluasaan untuk mengelola timnas secara mandiri, tanpa intervensi petinggi-petinggi PSSI—sesuatu yang sangat biasa dilakukan di masa lalu.
Namun, setelah sukses menembus final dengan lima kemenangan beruntun, otoritas Riedl dirampas. Timnya diobok-obok, dipolitisasi, dan ditunggangi demi pencitraan individu, kelompok, dan partai. Meski begitu, Riedl tetap mempersiapkan timnya dengan serius menjelang laga final pertama di Bukit Jalil. Pria yang hanya punya satu ginjal itu kemudian tidak tahan. ”Federasi mengganggu persiapan tim saya,” ujarnya di Bukit Jalil.
Maka, kalaupun ada satu-satunya hal yang patut disesali dari kegagalan ini adalah perjuangan hebat Firman cs telah dinodai oleh ambisi kotor para politisi. Selebihnya, kita patut bangga pada pasukan Merah-Putih yang telah berjuang keras. Kita harus memberikan apresiasi kepada penonton yang terus memberikan dukungan meski mereka sudah teraniaya saat mengantre tiket. Kita harus berterima kasih kepada Riedl dan timnya yang memberikan energi dan nuansa baru pada tim nasional.
Bagi bangsa Indonesia, inilah saatnya kembali ke kenyataan, untuk menyadari masih banyak pekerjaan rumah pembinaan sepak bola yang harus dikerjakan. Marilah kita bekerja keras!

Riedl Dipertahankan hingga 2012

Meski gagal meraih juara pada AFF Cup 2010, posisi pelatih tim nasional Indonesia, Alfred Riedl, masih tetap akan dipertahankan. Kontrak pelatih asal Austria tersebut baru akan habis pada tahun 2012.
"Alfred berjalan terus, kontraknya baru habis tahun 2012," kata Manajer Tim Nasional Indonesia Andi Darussalam Tabussala saat ditemui di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (30/12/2010).
Menurut Andi, agenda dari Alfred Riedl selanjutnya adalah menyiapkan skuad 26 pemain U-23 untuk diikutsertakan pada ajang Pra Piala Dunia U-23. Selain itu, Riedl juga harus bekerja membentuk tim pra-olimpiade.
"Alfred harus melakukan seleksi 26 pemain U-23 dan pra-olimpiade pada bulan Februari hingga Juni mendatang," ucapnya.
Lebih jauh, Andi berharap bahwa tim nasional akan meraih prestasi tertinggi pada kemudian hari, terutama dalam agenda jangka pendek ke depan. "Kami berharap ya prestasi tertinggi," tandasnya.